Advertisement
Bisnis

Apa Kriteria Memilih Investasi Reksadana?

Advertisement

Apa Kriteria Memilih Investasi Reksadana? – Pernah nggak sih kamu merasa bingung pas mau mulai investasi reksadana? Pilih yang mana, yang aman, yang untungnya lumayan, atau yang risikonya paling kecil? Dulu aku juga gitu, bolak-balik baca artikel, nanya-nanya teman, sampai akhirnya sadar kalau memilih investasi reksadana itu nggak bisa asal ikut-ikutan. Ada kriteria yang mesti kamu perhatiin biar nggak zonk di kemudian hari.

Sobat Momoyo, kalau cuma lihat return tinggi terus langsung tergiur, hati-hati ya! Banyak yang nggak sadar kalau di balik angka-angka itu ada risiko yang harus siap ditanggung. Belum lagi urusan likuiditas, manajer investasi, dan biaya-biaya yang kadang suka “ngumpet” di balik syarat dan ketentuan. Makanya, sebelum mulai, penting banget buat paham dulu apa kriteria memilih investasi reksadana biar keputusan kamu lebih mantap dan nggak cuma ikut tren.

Nah, kalau kamu udah siap buat cari tahu lebih dalam, yuk kita bahas satu per satu kriterianya! Jangan sampai nanti nyesel cuma gara-gara kurang riset atau kejebak janji manis tanpa lihat tanda asteriks di baliknya.

Kriteria Memilih Investasi Reksadana

Jadi, kamu lagi kepikiran buat mulai investasi reksadana, tapi masih bingung gimana cara milihnya? Tenang, kamu nggak sendiri! Banyak banget orang yang tertarik sama investasi ini karena relatif mudah dan nggak ribet dibandingkan saham. Tapi, biar nggak salah pilih, ada beberapa hal yang perlu kamu pertimbangkan sebelum mulai. Yuk, kita bahas satu per satu biar makin paham!

Baca juga:  Link Klaim DANA Kaget Gratis Terbaru Hari Ini! Dapatkan Bonus Rp 215.000

1. Kenali Tujuan Investasimu

Sebelum nyemplung ke dunia investasi reksadana, kamu harus tahu dulu tujuanmu apa. Mau nabung buat beli rumah? Persiapan dana pensiun? Atau sekadar cari cuan tambahan? Tiap tujuan punya strategi yang beda.

Kalau kamu butuh dana dalam waktu dekat (misalnya kurang dari 1 tahun), reksadana pasar uang bisa jadi pilihan karena lebih stabil dan risiko rendah. Tapi kalau buat jangka menengah (1-5 tahun), reksadana pendapatan tetap bisa jadi opsi karena imbal hasilnya lebih tinggi. Nah, kalau kamu tipe yang sabar dan nggak butuh duitnya dalam waktu dekat, reksadana saham bisa jadi pilihan terbaik karena potensi keuntungannya paling tinggi.

Intinya, tujuan investasimu bakal menentukan jenis reksadana yang cocok buat kamu!

2. Pahami Profil Risiko Kamu

Setiap orang punya tingkat toleransi risiko yang beda-beda. Ada yang santai kalau investasinya naik turun, ada juga yang nggak bisa tidur kalau saldo investasinya turun dikit. Nah, di dunia investasi reksadana, ini disebut profil risiko, dan umumnya terbagi jadi tiga:

Profil RisikoKarakteristikJenis Reksadana yang Cocok
KonservatifNggak suka risiko, maunya investasi yang stabilReksadana pasar uang atau pendapatan tetap
ModeratBisa nerima risiko, tapi tetap pengen stabilReksadana campuran
AgresifSuka tantangan, siap cuan besar meski risiko tinggiReksadana saham

Jadi, kalau kamu tipe konservatif, nggak usah maksa masuk ke reksadana saham, karena bakal stres tiap lihat harga naik turun. Sebaliknya, kalau kamu agresif, ya jangan pilih reksadana pasar uang karena bakal terasa lambat banget.

3. Cek Kinerja Reksadana

Ini salah satu langkah paling penting: lihat dulu kinerja reksadana yang mau kamu pilih. Jangan asal ikut-ikutan teman atau karena promosinya bagus. Kamu bisa cek di situs-situs seperti Bareksa, Bibit, atau langsung ke website OJK.

Baca juga:  Memulai Usaha? Ini Cara Buat Produk yang Disukai Konsumen

Beberapa hal yang perlu dicek:

  • Return dalam 3-5 tahun terakhir → Jangan cuma lihat return tahunan, tapi lihat juga apakah performanya konsisten atau nggak.
  • Volatilitas (naik turunnya harga) → Kalau naik turunnya terlalu ekstrim, berarti risikonya tinggi.
  • Dana kelolaan → Biasanya, reksadana dengan dana kelolaan besar lebih stabil.

Kamu juga bisa lihat apakah reksadana tersebut pernah anjlok parah dalam beberapa tahun terakhir. Kalau iya, coba cari tahu penyebabnya, apakah karena kondisi pasar atau memang manajernya kurang oke.

4. Pilih Manajer Investasi yang Terpercaya

Reksadana itu dikelola oleh Manajer Investasi (MI), jadi penting banget buat milih yang punya track record bagus. Kamu nggak mau kan investasi di tempat yang nggak jelas?

Beberapa hal yang bisa kamu cek:

  • Apakah terdaftar di OJK? Kalau nggak, langsung coret dari daftar!
  • Sudah berapa lama beroperasi? Semakin lama, biasanya semakin berpengalaman.
  • Portofolio investasi mereka? Cek apakah mereka juga mengelola produk lain yang sukses.

Manajer Investasi yang udah punya nama besar biasanya lebih terpercaya, tapi tetap harus dicek kinerjanya ya!

5. Perhatikan Biaya-biaya yang Dikenakan

Investasi reksadana memang kelihatannya gampang, tapi jangan lupa ada biaya-biaya yang harus kamu perhatiin. Jangan sampai keuntunganmu malah habis buat bayar biaya ini itu!

Beberapa biaya yang biasanya ada di reksadana:

  • Biaya pembelian → Ada yang gratis, ada yang kena 1-2%.
  • Biaya penjualan (redemption fee) → Bisa gratis, tapi ada juga yang kena 1-3% kalau dicairkan dalam waktu tertentu.
  • Biaya pengelolaan (management fee) → Biasanya sekitar 1-3% per tahun, tergantung jenis reksadana.
  • Biaya kustodian → Ini biaya yang dibayar ke bank kustodian yang menyimpan dana investasimu.
Baca juga:  Cara Transfer OVO ke ShopeePay dan Bayar Shopee Pakai OVO

Sebelum beli, cek dulu biayanya, biar nggak kaget nanti!

6. Diversifikasi Itu Penting!

Jangan taruh semua uangmu di satu jenis reksadana aja. Kenapa? Karena kalau satu turun, kamu masih punya cadangan di tempat lain.

Misalnya, kalau kamu punya dana Rp10 juta, bisa bagi jadi:

  • 40% di reksadana saham
  • 30% di reksadana campuran
  • 30% di reksadana pasar uang

Jadi kalau pasar saham lagi jelek, kamu masih punya yang stabil di pasar uang. Ini yang disebut dengan diversifikasi, dan ini salah satu cara paling ampuh buat meminimalkan risiko investasi.

7. Jangan Lupa Evaluasi Secara Berkala

Investasi itu bukan sekali taruh uang terus ditinggal aja, ya! Kamu tetap harus cek performanya secara berkala, minimal setiap 3-6 bulan sekali.

Kalau ternyata kinerjanya jelek terus, coba cari tahu kenapa. Bisa jadi karena pasar lagi turun, atau memang reksadananya nggak dikelola dengan baik. Kalau ternyata kurang oke, jangan ragu buat pindah ke yang lain.

Penutup

Investasi reksadana itu ibarat nyari jodoh, guys. Nggak bisa asal comot terus berharap langsung cuan. Kamu harus paham dulu apa kriteria memilih investasi reksadana yang sesuai sama tujuan finansialmu. Kalau cuma ikut-ikutan tren tanpa cek risiko atau imbal hasil, bisa-bisa malah boncos di tengah jalan. Sobat Momoyo pasti nggak mau kan, udah nabung lama eh malah nyesel karena nggak riset dulu? Makanya, jangan cuma tergoda return tinggi, tapi cek juga biaya, manajer investasi, dan likuiditasnya.

Terus, kalau udah ngerti kriterianya, tinggal action! Mau mulai dari reksadana pasar uang yang low risk atau langsung gas ke reksadana saham yang potensinya lebih gede, itu tergantung profil risiko kamu. Yang penting, jangan lupa diversifikasi biar nggak nangis kalau pasar lagi goyang. Nah, kalau masih bingung, coba cari lebih banyak info atau tanya ke ahlinya. Daripada cuma mikir doang, mending langsung eksekusi, kan?

momoyo

“Memiliki pengalaman dalam pengolahan konten di website dan media sosial di salah satu perusahaan startup selama 10 tahun. Dengan daya kreativitas dan keterampilan menulis yang baik, mampu menyusun artikel, iklan, poster, dan pengumuman yang menarik menggunakan keterampilan menulis sehingga dapat meningkatkan traffic ke situs web perusahaan.”